Selasa, 30 Desember 2014 0 komentar

PSIKOLOGI KEMALASAN



PSIKOLOGI KEMALASAN
RESUME
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Individu Semester IV
Program Strata Satu ( S1 ) Fakultas Tarbiyah Jurusan PAI
Kelompok Kelas         :  C Regular
Mata Kuliah                :  Psikologi Pendidikan
Dosen
Dr. Azam Syukur Rahmatullah, S.H.I., M.S.I, M.A


oleh
                                                 ROVI SULISTIONO                            
2124669
INSTITUT AGAMA ISLAM NAHDLATUL ULAMA
(IAINU) KEBUMEN
2014
Judul               : Psikologi Kemalasan
Pengarang       :Dr. Azam Syukur Rahmatullah, S.H.I,M.S.I,M.A
Penerbit           :Azkiya Media
BAB I Malas Sebagai Rajanya Ketidaksuksesan
Malas “Racunnya” Keberhasilan
Malas! Suatu penyakit yang sudah tidak asing lagi terdengar di telinga. Penyakit yang terkadang bila diremehkan malah cenderung semakin melonjak, semakin cenderung menunjukan ketidakbersahabatan positifnya dengan manusia. Keberadaan virus – virus ini adalah matinya keberhasilan bagi seseorang. Ketika seseorang buta atau memang sengaja membutakan dirinya sendiri untuk tidak melihat suatu kebenaran yang hakiki, yang kebenaran itu menyatakan bahwa kemalasan bukanlah suatu hal yang pantas diperturutkan serta dipuji – puji, dan kebenaran juga menyatakan bahwa kemalasan harus dinon-aktifkan dari dalam diri masing – masing pribadi, maka yang terjadi adalah dunia keberhasilan akan enggan menghinggapi orang – orang yang memiliki prinsip demikian.
Ending-nya orang yang demikian akan bertemu pada satu titik penyesalan yang sangat. Penyesalan baru akan dirasakan setelah  pikiran dan hati terbuka, yang berarti ketika rasa malas menyerang dan hinggap dalam diri seseorang termasuk mungkin diri sendiri maka baik disadari atau tidak, virus malas menutup serapatmungkin hati dan fikiran anda agar tidak keluar  dari zona kenyamanan yang dimotori oleh kemalasan.
Penyesalan dibelakang mengandung beberapa unsur berikut :
·         Pengembangan “pikiran cupet nan sempit” masih begitu kental
·         Lemahnya penghargaan atas dirinya sendiri
Penyesalan didepan unsure – unsurnya sebagai berikut :
·         Mengedepankan fikiran yang penuh kedewasaan
·         Menyadari sepenuhnya akan hakikat dirinya
Dengan demikian untuk meraih sebuah keberhasilan atas berbagai impian, yang seharusnditerapkan adalah prinsip penyesalan di depan; sebelum atau ketika sudah bertindak harus berfikir ulang mengenai baik dan buruknya. Nasehat dari Musthofa al-Ghalayain :
“jadikanlah sifat berani sebagai watakmu. Berpegang teguhlah dengan talinya. Jangan biarkan sifat pengecut dan membabi buta itu menyusup di dalam hatimu. Pengecut adalahsebagian dari ketololalan. Berani itulah sifat orang – orang yang beriman kepada Allah dan jhari kemudian.
Malas, “Penipu Ulung” bagi Diri sendiri
“ Kelalaian yang paling sering disesali orang ialah tidak mempergunakan seketika ada kesempatan untuk kebaikan” (djamalus Djohan)
Bisikan syaitan terhadap orang – orang lemah secara ragawi dan bathini semakin menambah keyakinan mereka (orang – orang lemah) untuk mengkonsumsi secara serius kemalasan ini. Mereka benar – benar merasa bahwa “kemalasan” adalah pilihan tepat untuk dijadikan sebagai icon dan idol. Mereka telah tertipu oleh produk kemalasan ini, yang mungkin anda pun salah satu yang telah tertipu mentah – mentah. Bagaimana tidak tertipu? Sekilas memang menyenangkan, bebas dari tanggungan, dan bisa berbuat apapunyang diinginkan asal senang tanpa beba, tetapi yang sekilas itu nantinya malah menjadi “mala petaka” yang berkepanjangan. Dan mereka atau pun anda tertipu oleh apa yang dikonsumsi oleh diri sendiri.
Kehati – hatian diri alias “waspada” harus dan perlu selalu ditingkatkan karena syaitan akan selalu mencari mangsa dan selalu akan menambah personil pengikutnya yang sama – sama akan dibawa kejurang ketidakberhasilan. Karenanya, anda tidak boleh lengah dari upaya penjerumusan syetan kejurang ketidakberhasilan diri, karena manakala dalam “Penjerumusan” ini berhasil maka syaitan akan bertepuk tangan dan akan selalu merayakan kemenangannya dengan penuh kebanggaan. Sedangkan didi anda hanya akan gigit jari meratapi penyesalan diri.
Mala situ “Bom Waktu”
Salah satu karakteristik dari penyakit malas ini adlah flexible, tanpa batas ruang dan waktu. Seseorang itu mau kaya atau miskin, pandaiatu bodoh, punya seribu talenta atau tidak sama sekali bertalenta, tua atau muda, pejabat tinggi atau yang tidak punya jabatan sekali pun, seseorang yang good loking alias good body dan face atau yang setandar penampilan tubuhnya, mahasiswa, pelajar, atau mlah yang sama sekali tidak pernah mengenyam bangku pendidikan (legal formal); akan dengan gampangannya, akan dengan mudahnya virus – virus kemalasan menembus dan menjalar keruang – ruang yang tanpa pengamanan kuat dari dalam diri sendiri.
Berhati – hati dari tipu daya dunia adalah sifatnya wajib, apalagi salah satu tipu daya itu bernama “kemalasan”. Benar apa yang disampaikan Hamka bahwa tipu daya itu akan berhasil membuat seseorang terlena, terkungkung dalam ranah penghambaan pada sesuatu yang negative. Utamanya  bagi mereka yang mau diperdaya, bagi mereka yang mau dipermainkan dan bagi mereka yang mau disandiwarakan. Tentunya bagi mereka yang tidak mau diperdaya, tidak mau dipermainkan, dan tidak mau disandiwarakan, akan berusaha semaksimal mungkin untuk berhati – hati dalam melangkah.
Malas Itu “Penyakit Hati” yang Mematikan
Salah satu penyakit hati yang saya yakin jika dibiarkan bebas berkeliaran tanpa adanya pengendalian diri (control of self ) dan sudah pasti kelak akan merugikan diri adalah penyakit malas. Seseorang yang berhasil menyembuhkan diri dari penyakit malas ini tentunya melalui berbagai macam terapi adalah orang yang tentunya mempunyai niat besar untuk berubah haluan, memiliki semangat tinggi untuk keluar dari kungkungan yang mematikan.
“sesungguhnya di dalam tubuh trdapat segumpal daging. Apabila ia baik maka semua tubuh menjadi baik, tetapi apabila ia rusak maka semua tubuh menjadi rusak. Ingatlah bahwa ia adalah kalbu atau hati” (HR. al-Bukhari dari Nu’aiman Ibn Basyir)
Mala situ “Candu”!
Ketika suatu amal yang mengiringi kata candu itu tidak mengarah kepada ranah al – birr atau ranah kebaikan contohnya candu narkoba, candu seks, candu gambar porno dan lain sebagainya maka mau tidak mau candu itu pun ikut terbawa kearah negative. Dan ketika suatu amal itu lebih mengarah atau membawa pada ranah yang hasanah (baik) contohnya; candu membaca’ candu menulis, candu berbahasa asing maka mau tidak mau pun candu dalam posisi aman, bebas dari kesia – siaan.
Pada substansinya memang berbeda antara candu yang beraliran hasanah (candu yang baik) dengan candu yang beraliran sayyiah (candu yang kurang atau bahkan tidak baik) keduanya memiliki karakter berbeda, yang di antaranya adalah:
1.      Karakteristik candu yang beraliran sayyiah
·         Menarik madharat dan menghindarkan maslahat
·         Pelan namun pasti mengikis kecerdasan kognisi, emosi dan psikomotor
2.      Karakteristik candu yang beraliran hasanah
·         Membawa pada posisi diri membutuhkan
·         Berkembang menuju arah kemajuan
BAB 2 Menjadi “Manusia Pemalas”, salah siapa?
Siapa yang harus disalahkan?
Kegengsian diri hanya akan membawa pada titik kehancuran diri. Semakin besar kegengsian diri atas berbagai kritikan positif terhadap diri maka semakin jauh perubahan positif atas dirinya. Dan bisa dipastikan “kesuksesan pun akan semakin jauh dari kenyataan yang diharapkan”. Semakin kecil bahkan sampai pada taraf sirna rasa kegengsian diri atas berbagai kritikan positif, maka perubahan positif atas diri sendiri sangat  udah dijangkau. Dan nantinya kesuksesan akan mudah pula tercapai.
Beberapa factor yang menjadikan seseorang mendominasikan dirinya terhadap rasa kegengsian diri:
1.      Perbedaan latar belakang keluarga
2.      Perbedaan pemahaman pendidikan yang diperoleh
3.      Perbedaan kebiasaan kebiasaan
4.      Perbedaan corak berfikir
Malas: Sebuah pilihan yang keliru
Fitrah manusia memang ada di antara dua jalan persimpangan yakni diberikan jalan kemuliaan (kebaikan) dan jalan keburukan (kejahatan). Menurut Ubaydilah,AN (2003) idealnya ada tiga perangkat penting (Urgent) yang harus dipunyai oleh seseorang agar tidak salah sasaran dalam menentukan pilihannya, apalagi yang berhububgan dengan masalah pilihan ini, yakni :
1.      Perangkat berupa perasaan (Emotional)
2.      Perangkat berupa hati
3.      Perangkat berupa akal
Budaya Mentang – Mentang (Budaya yang meninabobokan Diri sendiri)
Apa sebenarnya yang dimaksud dengan budaya mentang – mentang ini? Budaya mentang adalah sebuah budaya tentang keakuan diri yang menyatakan bahwa diri sendiri sudah merasa sukses sehingga tidak perlu lagi mengembangkan kreativitas lagi, atau yang menyatakan bahwa diri sendiri sudah merasa pintar sehingga tidak perlu lagi mengembangkan kecerdasan kognisi lagi. Dan berbagai kata sudah merasa lainnya.
Beberapa factor atau sebab yang menjadikan diri terkena budaya mentang – mentang ini, diantaranya adalah :
1.      Problem belajar
2.      Problem motivasi
3.      Problem perilaku
4.      Problem Emotional
Demam kemalasan; Sebuah Pembohongan Hati Nurani
Hati nurani adlah hati yang suci, yang tidak akan mungkin terkontaminasi oleh apapun. Permasalahan tentang “kebahagiaan karena kemalasan” ini jelas merupakan konsep kebahagiaan yang salah kaprah, karena datangnya dari sebuah ketidak benaran, hadirnya dari sebuah deviasi atau penyimpangan yang bagi para pengikut atau pengabdinya tetap berpegang teguh bahwa ini sebuah kebahagiaan. Meskipun diyakini bahwa “mereka tidak bisa dan tidak akan sanggup membohongi hati nurani mereka sendiri” yang senantiasa melantunkan kebenaran.
BAB 3 Mengapa Harus Muncul? (Tinjauan Sebab – Musabab Kemalasan Datang)
Keringnya “Tujuan Hidup Positif” (Pemicu Hadirnya”Malas yang Kritis”)
Salah satu pembeda aktif dan tidaknya seseorang dalam kehidupan terletak pada subur dan tidaknya tujuan hidup yang dimiliki. Manakala seseorang memiliki kesuburan planning – planning atau program – program positif maka kemungkinan besar seseorang tersebut akan terkena dampak positif yakni menjadi orang yang aktif, kreatif, inovatif, dan pantang mengatakan sudah usai perjuanganku atau sudah cukup karyaku.
Salah satu bentuk nyata akibat negtif dari orang – orang lemah atau kering tujuan hidup dan tidak dimilikinya planning – planning yang jelas adalah hadirnya  kemalasan diri yang sangat dimungkinkan menjadi kemalasan akut. Hal paling baik untuk menghindarkan diri dari kemalasan –agar tidak muncul- ini adalah dengan melakukan “pembaharuan diri”. Beberapa hal yang perlu diperbaharui supaya menjadi yang terbaik dalam meraih tujuan hidup yang dituju, yakni:
1.      Pembaharuan tujuan hidup
2.      Pembaharuan Niat : “Menuju Kemantapan Niat”
3.      Pembaharuan semangat untuk terus berjuang
Putusnya Mata Rantai Motivasi : Penghambat Berprestasi dan Pemicu Kemalasan
Kekeringan motivasi merupakan salah satu penyebab besar munculnya kemalasan. Semakin kering motivasi diri seseorang maka semakin besar kemalasan yang ada pada diri seseorang tersebut. Demikian pula semakin subur motivasi diri pada seseorang maka semakin kecil kemalasan datang mengganggu. Karena itulah motivasi memang tidak diperbolehkan untuk di-eliminasi. Motivasi harus tetap berkobar dalam diri apapun yang terjadi.
Motivasi ini memiliki lingkaran mata rantai yang bila salah satunya terputus atau lemah maka akan mematikan langkah selanjutnya menuju apa yang diinginkan. Pengembangan motivasi ini harus melihat latar belakang di balik motivasi itu sendiri – baik atau tidaknya motivasi – tentunya ada sebabnya dan ini berkaitan dengan teori – teori motivasi yang ada, yakni:
1.      Teori Atribusi.
2.      Teori Harapan.
3.      Teori Aktualisasi Diri.
Kemiskinan Kesehatan Mental (Lebih Berbahaya dariKemiskinan yang Sebenarnya) 
“Kesehatan mental adalah suatu keadaan dimana seseorang mampu”mengkondisikan dirinya sendiri” kearah positivism-act seperti ketenangan batin/jiwa, pemaksimalan potensi – potensi diri, yang dengan itu semua orang bisa mewujudkan kebaikan – kebaikan tingkah laku yang kemudian berimbas pada kebahagiaan lahir batin.”
Kesehatan mental dari kaca islam juga bisa diartikan sebagai usaha positif dari seseorang untuk “memanage diri sendiri”; manajemen dari berbagai kelemahan negatif diri dengan panduan dasarnya adalah Al-Qur’an dan Hadis (sumber dasar islam)
Degradasi “Manajemen Diri” (Pangkal Dasar dari Ketidak Berdayaan Diri Melawan Kemalasan)  
Ada dua landasan dasar sebenarnya untuk memunculkan kesiagaan diri dengan wasilah manajemen diri yakni adanya kemauan dan kemampuan. Dengan modal kemauan yang sesadar – sadarnya akan mampu mengarahkan dan dan membimbing diri pada sisi positive act. Modal kedua adalah kemampuan (capability). Adanya suatu keyakinan bahwa masing – masing person dibekali dengan suatu kemampuan untuk me-manage diri sendiri, sayangnya, adanya suatu keyakinan pula bahwa masing – masing person tidak memaksimalkan kemampuan untuk me – manage diri sendiri, padahal mereka sebenarnya mampu.
Berikut ini adalah beberapa fungsi manajemen yang seyogyanya diterapkan dalam diri sebagai “tameng”:
a.       Planning
b.      Organizing
c.       Direction
d.      Pengawasan (Control)
e.       Pembaharuan (Inovasi)
BAB 4 Menuju Reformasi Kelemahan (Tips Substantif Menghilang Rasa Malas yang Berkepanjangan)
Memberdayakan Optimistic Attitute
Memunculkan dan memberdayakan sense of optimistic dalam diri sebagai sarana untuk menghancurkan kemalasan. Dalam buku karya Triantoro Safaria berjudul “Optimistic Quotient”;Menenamkan dan Menumbuhkan Sikap Optimis pada Anak (2007) diterangkan ada lima kekuatan utama Optimistic Quotient, yang dengan 5 kekuatan ini bisa menghalau atau mencegah terlalu dalam penyakit malas, kelima kekuatan ini adalah :
1.      Pengendalian distorsi kognitif
Distorsi kognitif bisa diartikan sebagai kenegatifan dalam berpikir atau negative thingking, di mana seseorang lebih banyak mengaktifkan pikiran negative yang berakibat “penguasaan hati” yang negative pula.
2.      Penguasaan kendali-diri (self control)
Kendali diri itu sebdiri bisa diartikan sebagai pusat penguasaan diri untuk tidak melakukan hal – hal di luar batas yang telah ditentukan baik oleh ilahi (hukum syar’i), masyarakat yang terbentuk dalam aturan adat/hokum social, atau pula aturan hokum konvensional yang berlaku.
3.      Penguasaan Penalaran Optimistik
Ketika seseorang berhasil mengembangkan dan menguasai dirinya dengan penuh “penalaran optimistik” ini, maka kemungkinan besar penyakit malas atau pula pencegahan penyakit malas bisa diminimalisir. Hal ini mengingat kekuatan dari “optimistik” ini cukuplah besar ungtuk membangkitkan diri seseorang dari keterpurukan dan kejatuhan.
4.      Transendal Coping
Transcendental coping merupakan masalah (problem solving) dengan menggunakan pendekatan illahiyah, yang ini berarti “seseorang tidak diperkenankan” hanya menggunakan kekuatan nafsiyah, fisiologiyah tanpa mentransendensikan diri kepada illahi rabbi.
5.      Kekuatan Visioner
Visi merupakan penggambaran langkah menuju ke depan. Akan seperti apa dan bagaimana ke depannya bisa dilihat dengan menggunakan visi dan misi.
Berkaca dari Film The Secret (Kebangkitan dari dunia kemalasan)  
Film The Secret ini merupakan film yang mutan “motivasi konstruktifnya” cukup tinggi untuk masing – masing personal. 3 hal urgen yang bisa dilakukan untuk meraih kesuksesan hidup, utmanya sukses melawan kemalasan adalah sebagai berikut:
1.      Meminta apa – apa yang diinginkan oleh diri sendiri dan menuliskan kesemua itu dikertas dengan berbagai penjelasan :”mengapa diri benar – benar menginginkan poin – poin tersebut ”
2.      Mencoba menjawab permintaanyang telah dituliskan.
3.      Tahap menerima dan menghargai apapun yang jadi keputusan Illahi (atas hasil yang diperoleh).
Orang yang Berfungsi Sesungguhnya (Qaul Roggers dalam Meraih Kebermaknaan Hidup untuk Membebaskan Penyakit Malas)
Asumsi Roggers tentang “kepribadian yang sehat” adalah kepribadian yang mampu memahami proses – proses kehidupan. Proses kehidupan yang dijalani bisa saja berupa masalh – masalah yng rumit dan tidak menyamankan diri.
Sehubungan dengan sifat orang yang berfungsi sepenuhnya yang juga erat kaitannya dengan kepribadian sehat maka ada beberapa cirinya yang antara lain adalah sebagai berikut:
1.      Keterbukaan pada Pengalaman
2.      Kehidupan Eksisitensial
3.      Kepercayaan terhadap Organisme Orang Sendiri
4.      Perasaan Bebas
5.      Kreativitas
Pendekatan Psikoterapi Islam sebagai Penghapus Titik Noda Kemalasan
Dalam psikoterapi islam itu sebagai metode penyembuhan yang dekat dengan wawasan keagamaan sendiri ada metode – metode yang berdasar dari Qur’aniyah dan haditsiyah yang digunakan sebagai media penyembuhan atas penyakit yang dialami tiga metode yang dimaksud adalah:
1.      Tahap Pembersiahn Diri
2.      Tahap Pengmbangan diri
3.      Tahap Penyempurnaan Diri
1 komentar

PROFESIONAL, PROFESI DAN PROFESIONALISME KERJA



PROFESIONAL, PROFESI DAN PROFESIONALISME KERJA
MAKALAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Kelompok Semester IV
Program Strata Satu ( S1 ) Fakultas Tarbiyah Jurusan PAI
Kelompok Kelas         :  C Regular
Mata Kuliah                :  Kepribadian / Etika dan Profesi Keguruan
Dosen
Drs. H. Djoko Waluyo, M.Pd.

Disusun oleh :
1.      AHMAD NASIKIN                         2124645
2.      MAKINUDIN                                  2124665
3.      ROISATUN                                      2124668
4.      ROVI SULISTIONO                       2124669
5.      WAHYU JAUHARI ALFAN         2124684
INSTITUT AGAMA ISLAM NAHDLATUL ULAMA
(IAINU) KEBUMEN
2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Alloh SWT, karena atas petunjuk-Nya maka kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. Sholawat dan salam tidak henti – hentinya kami sampaikan kepada nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan para pengikutnya. Makalah ini dibuat dengan tujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Kepribadian/Etika dan Profesi Keguruan Semester IV / PAI / SI di Institut Agama Islam Nahdlatul ‘Ulama (IAINU) Kebumen dengan judul “ Profesinal, Profesi dan Profesionalisme Kerja ”. Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada:
1.      Yth. Drs. H. Djoko Waluyo,M.Pd. selaku dosen mata kuliah Kepribadian/Etika dan Profesi Guru
2.      Kedua orang tua kami yang telah memberi motivasi kepada kami
3.      Rekan-rekan seperjuangan
4.      Serta semua pihak yang membantu tersusunnya makalah ini
Harapan kami semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi rekan – rekan mahasiswa pada khususnya dan para pembaca pada umumnya. Kami menyadari bahwa didalam menyusun makalah ini tentunya masih terdapat banyak kekurangan dan kesalahan. Untuk itu saran dari pembaca sangat kami nantikan untuk penyempurnaan makalah ini.                                   
Kebumen,          2014
Penyusun
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .....................................................................................       i
KATA PENGANTAR...................................................................................      ii
DAFTAR ISI....................................................................................................     iii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................      1
1.1  Latar Belakang.....................................................................................      1
1.2  Rumusan Masalah................................................................................      2
1.3  Tujuan..................................................................................................      2
BAB II PEMBAHASAN .............................................................................      3
2.1 Pengertian Profesional, Profesi dan Profesionalisme Kerja ................      3
2.2 Aspek – Aspek Yang Perlu Diperhatikan Dalam Mengembangkan
      Profesionalisme ...................................................................................      7
2.3 Karakteristik Profesionalisme..............................................................    10
2.4 Watak Kerja Seorang Profesionalisme................................................    11
BAB III PENUTUP .......................................................................................   13
A.    Kesimpulan..........................................................................................    13
B.     Saran....................................................................................................    14
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................    15


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Masalah
Guru sebagai salah satu komponen di sekolah menempati profesi yang penting dalam proses belajar mengajar. Kunci keberhasilan sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan di sekolah ada di tangan guru. Ia mempunyai peranan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan siswanya self concept, pengetahuan, ketrampilan, kecerdasan dan sikap serta pandangan hidup siswa. Oleh karenanya masalah sosok guru yang bagaimana yang kita butuhkan agar ia dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan siswa sesuai dengan tujuan-tujuan pendidikan yang diharapkan.
Guru sebagai pendidik merupakan faktor penentu kesuksesan setiap usaha pendidikan. Itulah sebabnya setiap perbincangan mengenai pembaruan kurikulum, pengadaan alat-alat belajar sampai pada kriteria sumber daya manusia yang dihasilkan oleh usaha pendidikan, selalu bermuara pada guru. Hal ini menunjukkan betapa signifikan (berarti penting) posisi guru dalam dunia pendidikan. Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003, Bab XI Pasal 39 Ayat 2). Guru sebagai seorang tenaga kependidikan yang professional berbeda pekerjaannya dengan yang lain, karena ia merupakan suatu profesi, maka dibutuhkan kemampuan dan keahlian khusus dalam melaksanakan tugas dan fungsinya (Tabrani Rusyan, 1990: 5).
Dengan demikian guru adalah seseorang yang professional dan memiliki ilmu pengetahuan, serta mengajarkan ilmunya kepada orang lain, sehingga orang tersebut mempunyai peningkatan dalam kualitas sumber daya manusianya
1.2  Rumusan Masalah
  1. Apa yang dimaksud dengan professional, profesi dan profesionlisme kerja ?
  2. Aspek apa saja yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan profesionalisme?
  3. Apa yang disebut dengan karakteristik Profesionalisme
  4. Apa watak seorang profesionalisme?
1.3  Tujuan
  1. Mengetahui pengertian professional, profesi dan profesionalisme kerja.
  2. Mengetahui aspek – aspek yang diperhatikan dalam mengembangkan profesionalisme.
  3. Mengetahui karakteristik profesionalisme
  4. Mengetahui watak seorang profesionalisme.






BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Profesional, Profesi dan Profesionalisme Kerja
  1. Pengertian Profesional
Berikut ini adalah pengertian dan definisi profesional
a.       KUSNANTO
Profesional adalah seseorang yang memiliki kompetensi dala suatu pekerjaan tertentu
b.      KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA
Profesional bersangkutan dengan profesi yang memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya
c.       TANRI ABENG (2002)
Seorang profesional harus mampu menguasai ilmu pengetahuannya secara mendalam, mampu melakukan kerativitas dan inovasi atas bidang yang digelutinya serta harus selalu berfikir positif dengan menjunjung tinggi etika dan integritas profesi
Dapat Disimpulkan:
Untuk mencapai sukses dalam bekerja, seseorang harus mampu bersikap profesional. Profesional tidak hanya berarti ahli saja. Namun selain memiliki keahlian juga harus bekerja pada bidang yang sesuai dengan keahlian yang dimilikinya tersebut. Seorang profesional tidak akan pernah berhenti menekuni bidang keahlian yang dimiliki. Selain itu, seorang profesional juga harus selalu melakukan inovasi serta mengembangkan kemampuan yang dimiliki supaya mampu bersaing untuk tetap menjadi yang terbaik di bidangnya.
  1. Pengertian Profesi
Berikut ini adalah pengertian dan definisi profesi:
a.       SCHEIN, E.H (1962)
Profesi adalah suatu kumpulan atau set pekerjaan yang membangun suatu set norma yang sangat khusus yang berasal dari perannya yang khusus di masyarakat
b.      DANIEL BELL (1973)
Profesi adalah aktivitas intelektual yang dipelajari termasuk pelatihan yang diselenggarakan secara formal ataupun tidak formal dan memperoleh sertifikat yang dikeluarkan oleh sekelompok / badan yang bertanggung jawab pada keilmuan tersebut dalam melayani masyarakat, menggunakan etika layanan profesi dengan mengimplikasikan kompetensi mencetuskan ide, kewenangan ketrampilan teknis dan moral serta bahwa perawat mengasumsikan adanya tingkatan dalam masyarakat
c.       KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA
Profesi adalah bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (ketrampilan, kejuruan, dan sebagainya) tertentu
d.      Profesi adalah suatu pekerjaan atau jabatan yang disebut profesi tidak dapat dipegang oleh sembarang orang, tetapi memerlukan persiapan melalui pendidikan dan pelatihan secara khusus. Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memeuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi (UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dalam Kunandar, 2007:45).
Menurut Sanusi et al (1991), mengutarakan cirri – cirri utama suatu profesi itu sebagai berikut:
a)      Suatu jabatan yang memiliki fungsi dan sigmifikansi social yang menentukan (Crusial).
b)      Jabatan yang menuntut keterampilan/keahlian tertentu.
c)      Keterampilan/keahlian yang menuntut jabatan itu didapat melalui pemecahan masalah dengan menggunakan teori dan metode ilmiah
d)     Jabatan itu berdasarkan pada batang tubuh disiplin ilmu yang jelas, sistematik, eksplisit, yang bukan hanya sekedar pendapat khalayak umum.
e)      Jabatan itu memerlukan pendidikan tingkat perguruan tinggi dengan waktu yang cukup lama.
f)       Proses pendidikan untuk jabatan itu juga merupakan aplikasi dan sosialisasi nilai – nilai professional itu sendiri.
g)      Dalam memberikan pelayanan terhadap masyarakat, anggota profesi itu berpegang teguh pada kode etik yang dikontrol oleh organisasi profesi.
h)      Tiap anggota profesi mempunyai kebebasan dalam memberikan judgement terhadap permasalahan profesi yang dihadapi.
i)        Dalam prakteknya melayani masyarakat, anggota [profesi otonom dan bebas daricampur tangan orang luar.
j)        Jabatan ini mempunyai prestise yang tinggi dalam masyarakat, dan oleh karenanya memperoleh imbalan yang tinggi pula.[1]

Dapat disimpulkan:
Profesi merupakan suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian atau keterampilan dari pelakunya. Biasanya sebutan “profesi” selalu dikaitkan dengan pekerjaan atau jabatan yang dipegang oleh seseorang, akan tetapi tidak semua pekerjaan atau jabatan dapat disebut profesi karena profesi menuntut keahlian para pemangkunya. Hal ini mengandung arti bahwa suatu pekerjaan atau jabatan yang disebut profesi tidak dapat dipegang oleh sembarang orang, akan tetepi memerlukan suatu persiapan melelui pendidikan dan pelatihan yang dikembangkan khusus untuk itu.
Pekerjaan tidak sama dengan profesi. Istilah yang mudah dimengerti oleh masyarakat awam adalah: sebuah profesi sudah pasti menjadi sebuah pekerjaan, namun sebuah pekerjaan belum tentu menjadi sebuah profesi. Profesi memiliki mekanisme serta aturan yang harus dipenuhi sebagai suatu ketentuan, sedangkan kebalikannya, pekerjaan tidak memiliki aturan yang rumit seperti itu. Hal inilah yang harus diluruskan di masyarakat, karena hampir semua orang menganggap bahwa pekerjaan dan profesi adalah sama.
  1. Pengertian Profesionalisme Kerja
a)      Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dikeluarkan oleh Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional disebutkan bahwa profesionalisme adalah mutu, kualitas dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau orang yang profesional.
Menurut Kunandar (2009), secara sederhana professionalism (professionalism) berarti sifat professional. Sedangkan menurut Ahmad Tafsir profesionalisme adalah paham yang mengajarkan bahwa setiap pekerjaan harus dilakukan oleh orang yang professional. Dalam kamus ilmiah popular, professional diartikan sebagai keahlian, didalamnya bagi golongan terpelajar dan pemain bayaran (Partanto dan Al Barry, 1994).
Sanusi et.al (1999) menjelaskan 5 konsep berkaitan dengan profesionalisme, yaitu:
a.       Profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian (experties) dari para anggotanya. Artinya, tidak dapat dilakukan oleh sembarangan orang yang tidak dilatih dan tidak disiapkan secara khusus untuk melakukan pekerjaan itu. Keahlian diperoleh melalui apa yang disebut profesionalisasi yang dilakukan baik sebelum seseorang menjalani profesi itu maupun setelah menjalani professi (in-service training). 
b.      Profesional, menunjuk pada dua hal yaitu: (a) Orang yang menyandang suatu profesi, (b)  Penampilan seseorang dalam melakukan pekerjaannya yang sesuai dengan profesinya. 
c.       Profesionalisme, menunjuk kepada komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya dan terus menerus mengembangkan strategi-strategi yang digunakannya dalam melakukan pekerjaan yang sesuai dengan profesinya. Profesionalisme juga mengacu kepada sikap dan komitmen anggota profesi untuk bekerja berdasarkan standart yang tinggi dan kode etik profesinya. 
d.      Profesionalitas, mengacu kepada sikap para anggota profesi terhadap profesinya serta derajat pengetahuan dan keahlian yang mereka miliki dalam rangka melakukan pekerjaannya. 
e.       Profesionalisasi, menunjuk pada proses peningkatan kualifikasi maupun kemampuan para anggota profesi dalam mencapai criteria yang standar dalam penampilannya sebagai anggota suatu profesi.
Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa profesionalisme kerja merupakan pandangan atau sikap mental dalam bentuk komitmen dari para anggota suatu profesi untuk senantiasa mewujudkan dan meningkatkan kualitas profesionalannya dalam menjalankan profesi sesuai dengan kode etik profesi.

2.2  Aspek- AspekYang Perlu Diperhatikan Dalam Mengembangkan Profesionalisme
Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan profesionalisme adalah sebagai berikut :
1.      Pengetahuan (Knowledge) Paling tidak ada dua istilah yang secara tafsirihampir sama yakni pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Namun pada dasarnya dua istilah tersebut sangat berbeda. Menurut Mohammad Hatta pengetahuan adalah sesuatu yang didapat dari membaca dan pengalaman. Sedangkan ilmu pengetahuan adalah yang didapat dengan jalan keterangan atau informasi tertentu.
Endang Saefudin Anshari membagi pengetahuan menjadi empat bagian yakni:
a)      Pengetahuan biasa, yaitu pengetahuan tentang hal-hal biasa, kejadian sehari-hari, yang selanjutnya disebut pengetahuan.
b)      Pengetahuan ilmiah yaitu pengetahuan yang mempunyai sistem dan metode tertentu, yang selanjutnya disebut ilmu pengetahuan.
c)      Pengetahuan filosofis yaitu semacam ilmu istimewa yang mencoba menjawab istilah-istilah yang tidak terjawab oleh ilmu-ilmu biasa, yang sering disebut dengan ilmu filsafat.
d)     Pengetahuan teologis, yaitu pengetahuan tentang pengetahuan pemberitahuan dari Tuhan.
Jadi, pengetahuan adalah sesuatu yang bisa dibaca, dipelajari dan dialami oleh setiap orang. Namun, pengetahuan seseorang harus diuji dulu melalui penerapan dilapangan. Seperti halnya seorang guru harus mampu menunjukkan eksistensinya dari segi ilmu pengetahuan maupun pengetahuan dalam kacamata lapangan yakni pada bagian-bagian pendidikan.
Dalam pengembangan profesionalisme guru, menambah ilmu pengetahuan adalah mutlak. Jika tidak, stagnansi akan menghampiri para profesional guru-guru negeri ini.
2.      Kemampuan (Ability) Kemampuan terdiri dari dua unsur, yaitu yang bisa dipelajari dan alamiah. Pengetahun dan kemampuan adalah unsur kemampuan yang bisa dipelajari, sedangkan yang alamiah orang biasa menyebut bakat. Untuk mengembangkan sikap profesional pada dunia guru paling tidak dibutuhkan kemauan selain kemampuan.
3.      Keterampilan (Skill) Keterampilan merupakan salah satu unsur kemampuan yang dapat dipelajari pada unsur penerapannya. Bagi seorang guru yang tugasnya mengajar dan peranannya didalam kelas, paling tidak keterampilan yang harus dimilikinya adalah :
a.      Guru sebagai pengajar, yakni menyampaikan ilmu pengetahuan, sehingga perlu memiliki keterampilan menyampaikan informasi kepada anak didiknya dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
b.      Guru sebagai pimpinan kelas, perlu memiliki keterampilan dalam memimpin kelompok-kelompok kelas yaitu murid.
c.       Guru sebagai pembimbing, perlu memiliki keterampilan mendorong dan mengarahkan kegiatan belajar siswa.
d.      Guru sebagai supervisor, perlu memiliki keterampilam mengawasi kegiatan anak didik dan ketertiban kelas.
e.       Guru sebagai evaluator, perlu memiliki keterampilan dalam menilai secara objektif, kontinue dan komprehensif terhadap anak didik.
f.        Guru sebagai konselor, perlu memiliki keterampilan dalam membantu anak didik dalam menyelesaikan problematika ketika anak didik mendapati permasalahan.
4.      Sikap (Attitude) Sikap diri seseorang terbentuk oleh suasana lingkungan yang melingkupinya. Seorang anak sudah barang tentu akan belajar mengenal lingkungan terdekatnya yaitu orangtua.
Menurut Allport, "Personality is the dinamyc organization within the individual of those psyco-physical system that determine his characteristics behavior and thought" bahwa kepribadian menyangkut keseluruhan aspek seseorang, baik fisik maupun psikis, yang menentukan karakteristik tingkah laku dan pemikirannya.
Oleh karena itu, sikap diri yang sangat diperlukan dalam pengembangan profesionalisme adalah:
a.       disiplin yang tinggi
b.      percaya diri yang positif
c.       akrab dan ramah
d.      akomodatif
e.       berani berkata karena benar.
5.      Kebiasaan (Habit) Kebiasaan adalah suatu kegiatan yang terus menerus dilakukan yang tumbuh dari dalam pikiran. Pengembangan kebiasaan diri harus dilandasi dengan kesadaran bahwa usaha tersebut membutuhkan proses yang cukup panjang. Kebiasaan positif yang harus dimiliki oleh seorang guru yang profesional adalah menyapa dengan ramah, memberikan pujian kepada anak didiknya dengan tulus, meyampaikan rasa simpati, meyampaikan rasa penghargaan kepada kerabat, teman sejawat, atau anak didik yang berprestasi dan lain-lain.
2.3  Karakteristik Profesionalisme
Profesionalisme (guru) haruslah memiliki karakteristik seperti :
  1. Harus memiliki landasan pengetahuan yang kuat; Profesional diasumsikan mempunyai pengetahuan teoretis yang ekstensif dan memiliki keterampilan yang berdasar pada pengetahuan tersebut dan bisa diterapkan dalam praktik
  2. Harus berdasarkan atas kompetensi individual; Kompetensi Individu dalam pengertian yang sederhana adalah gabungan antara pengetahuan, keterampilan dan sikap. Halmana setiap individu yang menduduki suatu jabatan atau posisi tertentu, harus mempunyai kompetensi yang dipersyaratkan, agar sesuai dengan hasil yang diinginkan.
  3. Memiliki sistem seleksi dan sertifikasi; Profesi menetapkan syarat pendaftaran dan proses sertifikasi sehingga hanya mereka yang memiliki lisensi bisa dianggap bisa dipercaya.
  4. Ada kerjasama dan kompetisi yang sehat antar sejawat;
  5. Adanya kesadaran profesional yang tinggi; sebagai pendidik yang mesti menjalankan profesinya secara total dan sepenuh hati mesti terus dibangun di dalam diri guru. Dengan kesadaran akan tanggung jawab profesi yang dimiliki, setiap guru diharapkan terus-menerus mendorong dirinya untuk memberikan yang terbaik dalam pendidikan bagi siswa.
  6. Memiliki prinsip-prinsip Etik (kode etik); Organisasi profesi biasanya memiliki kode etik bagi para anggotanya dan prosedur pendisiplinan bagi mereka yang melanggar aturan.
  7. Memiliki sistem sanksi profesi;
  8. Adanya militansi individual;
  9. Memiliki Organisasi profesi. Profesi biasanya memiliki badan yang diorganisasi oleh para anggotanya, yang dimaksudkan untuk meningkatkan status para anggotanya. Organisasi profesi tersebut biasanya memiliki persyaratan khusus untuk menjadi anggotanya.
2.4  Watak Kerja Seorang Profesionalisme
Tiga Watak Kerja Profesionalisme
  1. kerja seorang profesional itu beritikad untuk merealisasikan kebajikan demi tegaknya kehormatan profesi yang digeluti, dan oleh karenanya tidak terlalu mementingkan atau mengharapkan imbalan upah materiil;
  2. kerja seorang profesional itu harus dilandasi oleh kemahiran teknis yang berkualitas tinggi yang dicapai melalui proses pendidikan dan/atau pelatihan yang panjang, ekslusif dan berat;
  3. kerja seorang profesional diukur dengan kualitas teknis dan kualitas moral harus menundukkan diri pada sebuah mekanisme kontrol berupa kode etik yang dikembangkan dan disepakati bersama di dalam sebuah organisasi profesi.













BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003, Bab XI Pasal 39 Ayat 2). Dengan demikian guru adalah seseorang yang professional dan memiliki ilmu pengetahuan, serta mengajarkan ilmunya kepada orang lain, sehingga orang tersebut mempunyai peningkatan dalam kualitas sumber daya manusianya.
Adapun yang di maksud dengan pengertian profesional, profesi dan profesionalisme kerja yaitu :
  1. Profesional : Profesional tidak hanya berarti ahli saja. Namun selain memiliki keahlian juga harus bekerja pada bidang yang sesuai dengan keahlian yang dimilikinya tersebut.
  2. Profesi : Profesi merupakan suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian atau keterampilan dari pelakunya
  3. Profesionalisme : profesionalisme kerja merupakan pandangan atau sikap mental dalam bentuk komitmen dari para anggota suatu profesi untuk senantiasa mewujudkan dan meningkatkan kualitas profesionalannya dalam menjalankan profesi sesuai dengan kode etik profesi.
Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan profesionalisme adalah sebagai berikut :
    1. Pengetahuan (Knowledge)
    2. Kemampuan (Ability)
    3. Keterampilan (Skill)
    4. Sikap (Attitude)
    5. Kebiasaan (Habit)

B.     Saran
Demikian penyusunan makalah ini penulis selesaikan. penulis merasa bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan baik dalam susunan, sistematika penulisan, maupun pemaparan. Oleh karena itu penulis mengharap saran dari pembaca guna perbaikan makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca umumnya. Amin.

















DAFTAR PUSTAKA
Soetjipto, Raflis Kosasi.2011.Profesi Keguruan.Jakarta : Rineka Cipta


[1] Prof. Soetjipto dan Drs. Raflis Kosasi, M.Sc.,PROFESI KEGURUAN (Jakarta : PT.RINEKA CIPTA, 2011) Hlmn 17
 

 
;