Jumat, 05 Juli 2013 0 komentar

KONVERSI AGAMA



KONVERSI AGAMA
A.    Pengertian Konversi Agama
1.      Pengertian konversi agama menurut etimologi konversi berasal dari kata lain ”Conversio” yang berarti : tobat, pindah, dan berubah (agama). Selanjutnya, kata tersebut dipakai dalam kata Inggris Conversion yang mengandung pengertian : berubah dari suatu keadaan atau dari suatu agama ke agama lain (change from one state, or from one religion, to another).
2.      Pengertian konversi agama menurut terminology. Menurut pengertian ini akan di kemukakan beberapa pendapat tentang pengertian konversi agama antara lain :
a)      Max Heirich mengatakan bahwa konversi agama adalah suatu tindakan dimana seseorang atau sekelompok orang masuk atau berpindah kesuatu sistem kepercayaan atau prilaku yang berlawanan dengan kepercayaan sebelumnya.
b)      William James mengatakan, konversi agama adalah dengan kata – kata : to be converted, to be regenerated, to receive grace, to experience religion, to gain an assurance, are so many phrases which denotes to the process, gradual or sudden, by which a self hither divide, and consciously wrong inferior and unhappy, becomes unified and consciously right superior and happy, in consequence of its firmer hold upon religious realities (yang akan dirubah, untuk di regenerasi, untuk menerima kasih karunia, untuk pengalaman agama, untuk memperoleh jaminan, begitu banyak frasa yang menunjukan ke proses, bertahap atau tiba-tiba, di mana ke sini  membagi diri, dan sadar kesadaran salah khilaf dan tidak bahagia, menjadi bersatu dan sadar benar unggul dan bahagia, sebagai akibat dari cengkeramannya menguat pada realitas agama)
Konversi agama banyak menyangkut masalah kejiwaan dan pengaruh lingkungan tempat berada. Selain itu, konversi agama yang dimaksudkan memuat beberapa pengertian dengan ciri-ciri:
a)      Adanya perubahan arah pandangan dan keyakinan seseorang terhadap agama dan kepercayaan yang dianutnya.
b)      Perubahan yang terjadi dipengaruhi kondisi kejiwaan sehingga perubahan secara berproses atau secara mendadak.
c)      Perubahan tersebut bukan hanya berlaku bagi perpindahan kepercayaan dari suatu agama ke agama lain, tetapi juga termasuk perubahan pendangan terhadap agama yang dianutnya sendiri.
d)     Selain faktor kejiwaan dan kondisi lingkungan maka perubahan itupun disebabkan faktor petunjuk dari yang maha kuasa.
B.     Faktor – Faktor Yang Menyebabkan Terjadinya Konversi Agama
      Beberapa ahli berbeda pendapat dalam menentukan faktor yang menjadi pendorong konversi.
1.      Para ahli agama menyatakan bahwa yang menjadi faktor pendorong terjadinya konversi agama adalah petunjuk ilahi. Pengaruh supernatural berperan secara dominan dalam proses terjadinya konversi agama pada diri seseorang atau kelompok.
2.      Para ahli sosiologi berpendapat bahwa yang menyebabkan terjadinya konversi agama adalah pengaruh sosial. Pengaruh sosial itu terdiri dari adanya berbagai faktor antara lain:
a)      Pengaruh hubungan antar pribadi, baik pergaulan yang bersifat keagamaan maupun nonagama (kesenian, ilmu pengetahuan atau bidang kebudayaan yang lain).
b)      Pengaruh kebiasaan yang rutin. Misalnya menghadiri upacara keagamaan, ataupun pertemuan – pertemuan yang bersifat keagamaan baik pada lembaga formal maupun lembaga nonformal.
c)      Pengaruh anjuran atau propaganda dari orang – orang yang dekat. Misalnya karib, keluarga, famili, dan sebagainya.
d)     Pengaruh pemimpin keagamaan. Hubungan yang baik dengan pemimpin agama merupakan salah satu faktor pendorong konversi agama.
e)      Pengaruh perkumpulan berdasarkan hobi.Perkumpulan yang dimaksud seseorang berdasarkan hobinya dapt pula menjadi pendorong terjadinya konversi agama.
f)       Pengaruh kekuasaan pemimpin. Masyarakat umumnya cenderung menganut agama yang dianut oleh kepala negara atau raja mereka (cuius region illius est religio).
3.      Para ahli psikologi (Ahli ilmu jiwa) berpendapat bahwa yang menjadi pendorong terjadinya konversi agama adalah faktor psikologis yang ditimbulkan oleh faktor intern maupun ekstern. Faktor – factor tersebut apabila mempengaruhi seseorang atau kelompok hingga menimbulkan semacam gejala tekanan batin, maka akan terdorong untuk mencari jalan keluar yaitu ketenangan batin.
William James (dalam Ramayulis 2002, hal: 70), menyimpulkan dari hasil penelitiannya bahwa terjadinya konversi agama karena:
a)      Adanya suatu tenaga jiwa yang menguasai pusat kebiasaan seseorang sehingga pada dirinya muncul persepsi baru, dalam bentuk suatu ide yang bersemi secara mantap.
b)      Konversi agama dapat terjadi oleh karena suatu krisis ataupun secara mendadak (tanpa suatu proses).
Berdasarkan kesimpulan ini William James, Starbuck (dalam Ramayulis 2007, Hal 70- 71), membagi konversi agama menjadi 2 tipe:
a)      Tipe Volational (Perubahan bertahap)
Perubahan agama tipe ini terjadi secara berproses sedikit demi sedikit sehingga kemudian menjadi seperangkat aspek dan kebiasaan rohaniah yang baru. Konversi yang demikian itu sebagian besar terjadi sebagai suatu proses perjuangan batin yang ingin menjauhkan diri dari dosa karena ingin mendatangkan suatu kebenaran.
b)      Tipe Self-Surrender (Perubahan Drastis)
Konversi tipe ini adalah konversi yang terjadi secara mendadak. Seseorang tanpa mengalami suatu proses tertentu tiba-tiba berubah pendiriannya terhadap suatu agama yang dianutnya. Perubahan inipun dapat terjadi dari kondisi yang tidak taat menjadi lebih taat, dari tidak percaya kepada suatu agama kemudian menjadi percaya dan sebagainya. Pada konversi tipe kedua ini menurut William James adanya pengaruh petunjuk dari Yang Maha Kuasa terhadap seseorang, karena gejala konversi ini terjadi dengan sendirinya pada diri sefseorang sehingga ia menerima kondisi yang bru dengan pnyerahan jiwa sepenuhnya. Jadi, ada semacam petunjuk (Hidayah dari Tuhan).
c)      Masalah-masalah yang menyangkut terjadinya konversi agama tersebut berdasarkan tinjuauan para psikolog adalah berupa pembebasan dari tekanan batin.
Faktor yang melatar belakangi timbul dari dalam diri (intern) dan dari lingkungan (ekstern).
a.       Faktor intern, yang ikut mempengaruhi terjadinya konversi agama adalah :
(1)   Kepribadian. Secara psikologi tipe kepribadian tertentu akan mempengaruhi kehidupan jiwa seseorang. Menurut penelitian W. James bahwa tipe melankolis memiliki kerentanan perasaan lebih mendalam dapat menyebabkan terjadinya konversi agama dalam dirinya.
(2)   Factor pembawaan. Menurut penelitian Guy E. Swanson bahwa ada semacam kecenderungan urutan kelahiran mempengaruhi konversi agama. Anak tengah biasanya lebih bimbang dalam menentukan agama dibandingkan dengan anak sulung atau anak bungsu.
b.      Faktor ekstern. Diantaranya adalah;
(1)   Faktor keluarga, keratakan keluarga, ketidak seserasian, berlainan agama, kesepian, kesulitan seksual, kurang mendapat pengakuan kaum kerabat, dan lainya. Kondisi yang demikian menyebabkan seseorang akan mengalami tekanan batin.
(2)   Lingkungan tempat tinggal. Orang yang merasa terlempar dari lingkungannya akan merasa dirinya hidup sebatang kara. Keadaan ini menyebabkan seseorang mencari tempat untuk bergantung hingga kegelisahann batinnya hilang.
(3)   Perubahan status yang berlangsung secara mendadak Misalnya: perceraian, keluar dari sekolah atau perkumpulan, perubahan pekerjaan, kawin dengan orang yang berlainan agama.
(4)   Kemiskinan. Kebutuhan mendesak akan sandang dan pangan dapat mempengaruhi terjadinya konversi agama.
4.      Para ahli ilmu pendidikan berpendapat bahwa konvesi agama dipengaruhi oleh kondisi pendidikan. Berdirinya sekolah –sekolah yang bernaung di bawah yayasan agama tentunya mempunyai tujuan keagamaan pula.
Menurut Zakiyah Daradjat, Faktor-Faktor yang mempengaruhi konversi agama adalah (Zakiyah Daradjat 1991, hal 159 - 164):
1.                Pertentangan batin ( konflik jiwa ) dan ketegangan perasaan orang – orang yang gelisah, yang di dalam dirinya bertarung berbagai persoalan, yang kadang – kadang dia merasa tidak berdaya menghadapi persoalan atau problem itu mudah mengalami konversi agama, di antaranya ketegangan batin itu ialah tidak mampunya mematuhi nilai–nilai moral dan agama dalam hidupnya.
2.                Pengaruh hubungan dengan tradisi agama. Aktifitas lembaga keagamaan mempunyai pengaruh besar terutama aktifitas – aktifitas sosialnya. Kebiasaan – kebiasaan yang dialami waktu kecil, melalui bimbingan lembaga – lembaga kagamaan itu, termasuk salah satu faktor penting yang memudahkan terjadinya konversi agama jika pada umur dewasanya ia kemudian menjadi acuh tak acuh pada agama dan mengalami konflik jiwa ketegangan batin yang tidak teratasi.
3.                Ajakan / seruan dan sugesti. Peristiwa konversi agama terjadi karna sugesti dan bujukan dari luar jika orang yang mengalami konversi itu dapat merasakan kelegaan dan ketentraman batin dalam keyakinan baru, maka lama – kelamaan akan masuklah keyakinan itu ke dalam pribadinya.
4.                Faktor – faktor emosi. Dalam penelitian George.A. Coe bahwa konversi agama lebih banyak terjadi pada orang yang dikuasai oleh emosinya. Orang – orang yang emosional (lebih sensitif atau banyak dikuasai oleh emosinya) mudah kena sugesti apabila ia mengalami kegelisahan. Menurut G. Stanlay Hall, usia remaja terkenal dengan umur kegoncangan emosi. Menurut Starburk, bahwa umur yang menonjol bagi konversi agama pada laki – laki adalah 16 tahun 4 bulan dan bagi wanita 14 tahun 8 bulan.apabila kita kembali kepada kenyataan dalam hidup, tidak sedikit peristiwa konversi yng terjadi pada usia di atas 40 atau 50 tahun atau lebih.
5.                Kemauan. Kemauan juga merupakan peranan penting dalam konversi agama. Terbukti bahwa peristiwa konversi itu terjadi sebagai hasil dari perjuangan batin yang ingin mengalami konversi. hal ini dapat di ikuti dari riwayat hidup Imam Al Ghazali yang mengalami sendiri bahwa pekerjaan dan buku – buku yang dulu di karangnya bukanlah dari keyakinan, tapi datang dari keinginan untuk mencari nama dan pangkat. (zakiah daradjat: 1970: 159-164)
C.     Proses Konversi Agama
Menurut M.T.L Penido berpendapat, bahwa konversi agama mengandung 2 unsur yaitu:
1.             Unsur dari dalam diri (endogenos origin), yaitu proses perubahan yang terjadi dalam diri seseorang atau kelompok. Konversi yang terjadi dalam batin ini membentuk suatu kesadaran untuk mengadakan suatu transformasi disebabkan oleh krisis yang terjadi dari pribadi. Proses ini terjadi menurut gejala psikologis yang bereaksi dalam bentuk hancurnya struktur psikologis yang lama dan seioring dengan proses tersebut muncul pula struktur psikologis baru yang dipilih.
2.             Unsur dari luar (exogenous origin), yaitu proses perubahan yang berasal dari luar diri atau kelompok, sehingga mampu menguasai kesadaran orang atau kelompok yang bersangkutan. Kekuatan yang datang dari luar ini kemudian menekan pengaruhnya terhadap kesadaran, mungkin berupa tekanan batin, sehingga memerlukan pnyelesaian oleh yang bersangkutan.
Kerangka proses konversi agama dikemukakan oleh:
1.      H. Carrier, membagi proses tersebut dalam pentahapan sebagai berikut:
a.       terjadi disintegrasi sintesis kognitif dan motivasi sebagai akibat darikisis yang dialami.
b.      Reintegrasi kepribadian berdasarkan konversi agama yang baru, maka terciptalah kepribadian baru yang berlawanan dengan struktur lama.
c.       Tumbuh sikap menerima konsepsi agama baru serta peranan yang dituntut oleh ajarannya.
d.      timbul kesadaran bahwa keadaan yang baru itu merupakan panggilan suci petunjuk Tuhan.
2.      Dr. Zakiah Daradjat. Memberikan pendapatnya yang berdasarkan proses kejiwaan yang terjadi melalui 5 tahap, yaitu:
a.       Masa tenang.
Disaat ini kondisi jiwa seseorang berada dalam keadaan tenang, karena masalah agama belum mempengaruhi sikapnya. Dimana segala sikap, tingkah laku, dan sifat-sifatnya acuh tak acuh menentang agama.
b.      Masa ketidaktenangan.
Tahap ini berlangsung jika masalah agama telah mempengaruhi batinnya. Dikarenakan suatu krisis, musibah ataupun perasaan berdosa yang dialaminya. Hal ini menimbulkan keguncangan dalam kehidupan batinnya, sehingga mengakibatkan kegoncangan yang berkecamuk dalam bentuk rasa gelisah, panik, putus asa dan bimbang. konflik jiwa yang berat itu menyebabkan orang lebih sensitif (mudah perasa, cepat tersinggung dan mudah kena sugesti). Pada tahap ini terjadi proses pemilihan terhadap kepercayaan baru untuk mengatasi konflik batinnya.
c.       Masa konversi.
Masa ini terjadi setelah konflik batin mengalami keredaan, karena kemantapan batin dalam menentukan keputusan untuk memilih yang dianggap serasi ataupun timbulnya rasa pasrah sehingga terciptalah ketenangan dalam bentuk kesediaan menerima kondisi yang dialami sebagai petunjuk illahi.
d.      Masa tenang dan tentram.
Masa tenang dan tentram ditimbulkan oleh kepuasaan terhadap keputusan yang diambil. Ia timbul karena telah mampu membawa suasana batin menjadi mantap sebagai pernyataan menerima konsep baru.
e.       Masa ekspresi konversi.
Pengungkapan konversi agama dalam tindak tanduk, kelakuan, sikap dan perkataan, dan seluruh jalan hidupnya berubah mengikuti aturan-aturan yang diajarkan oleh agama. Itulah yang akan membawa tetap dan mantapnya perubahan keyakinan tersebut.
3.      Menurut Wasyim (dalam Sudarno, 2000) secara garis besar membagi proses konversi agama menjadi tiga, yaitu:
a.       Masa Gelisah (unsert), kegelisahan atau ketidaktenangan karena adanya gap antara seseorang yang beragama dengan Tuhan yang di sembah. Ditandai dengan adanya konflik dan perjuangan mental aktif.
b.      Adanya rasa pasrah
c.       Pertumbuhan secara perkembangan yang logis, yakni tampak adanya realisasi dan ekspresi konversi yang dialami dalam hidupnya.
Proses terjadinya konversi agama, dalam masyarakat mengambil beberapa macam bentuk:
1.      Perubahan yang drastis.
Adalah proses konversi agama dari tidak taat menjadi taat, yang jangka waktunya cepat, karena ada masalah-masalah yang tidak bisa dipecahkan oleh individu, yang disebabkan oleh tidak adanya pengalaman individu sebelumnya.
2.      Pengaruh Lingkungan.
Pengaruh lingkungan mempengaruhi sikap dan cara pandang terhadap keyakinan suatu agama.
3.      Pengaruh idealisme yang dicari.
Proses ini, biasanya memakan waktu lama. Individu selalu merasa dalam keyakinn yang meragukan. Tetapi jika, ada bukti yang bisa meyakinkannya, maka, dia akan yakin sepenuhnya.






Kamis, 13 Juni 2013 1 komentar

FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM


PENGERTIAN FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
Secara harfiah, kata filsafat berasal dari kata Philo yang berarti cinta, dan kata Sophos yang berarti ilmu atau hikmah. Dengan demikian, filsafat berarti cinta terhadap ilmu atau hikmah. Terhadap pengertian seperti ini al - Syaibani mengatakan bahwa filsafat bukanlah hikmah itu sendiri, melainkan cinta terhadap hikmah dan berusaha mendapatkannya, memusatkan perhatian padanya dan menciptakan sikap positif terhadapnya. Selanjutnya ia menambahkan bahwa filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab dan akibat, dan berusaha menafsirkan pengalaman – pengalaman manusia.
Selain itu terdapat pula teori lain yang mengatakan bahwa filsafat berasal dari kata Arab falsafah, yang berasal dari bahasa Yunani, Philosophia : philos berarti cinta, suka ( loving ), dan sophia yang berarti pengetahuan, hikmah (wisdom). Jadi, Philosophia berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran atau lazimnya disebut Pholosopher yang dalam bahasa Arab disebut failasuf.
Sementara itu, A. Hanafi, M.A. mengatakan bahwa pengertian filsafat telah mengalami perubahan – perubahan sepanjang masanya. Pitagoras (481 – 411 SM), yang dikenal sebagai orang yang pertama yang menggunakan perkataan tersebut. Dari beberapa kutipan di atas dapat diketahui bahwa pengertian fisafat dar segi kebahasaan atau semantik adalah cinta terhadap pengetahuan atau kebijaksanaan. Dengan demikian filsafat adalah suatu kegiatan atau aktivitas yang menempatkan pengetahuan atau kebikjasanaan sebagai sasaran utamanya.
Filsafat juga memilki pengertian dari segi istilah atau kesepakatan yang lazim digunakan oleh para ahli, atau pengertian dari segi praktis. Selanjutnya bagaimanakah pandangan para ahli mengenai pendidikan dalam arti yang lazim digunakan dalam praktek pendidikan. Dalam hubungan ini dijumpai berbagai rumusan yang berbeda – beda. Ahmad D. Marimba, misalnya mengatakan bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Berdasarkan rumusannya ini, Marimba menyebutkan ada lima unsur utama dalam pendidikan, yaitu :
1)      Usaha (kegiatan) yang bersifat bimbingan, pimpinan atau pertolongan yang dilakukan secara sadar.
2)      Ada pendidik, pembimbing atau penolong.
3)      Ada yang di didik atau si terdidik.
4)      Adanya dasar dan tujuan dalam bimbingan tersebut, dan.
5)      Dalam usaha tentu ada alat-alat yang dipergunakan.
Sebagai suatu agama, Islam memiliki ajaran yang diakui lebih sempurna dan kompherhensif dibandingkan dengan agama – agama lainnya yang pernah diturunkan Tuhan sebelumnya. Sebagai agama yang paling sempurna ia dipersiapkan untuk menjadi pedoman hidup sepanjang zaman atau hingga hari akhir. Islam tidak hanya mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di akhirat, ibadah dan penyerahan diri kepada Allah saja, melainkan juga mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia termasuk di dalamnya mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk mengatur kehidupan dunia dan akhirat tersebut adalah al Qur’an dan al Sunnah. Sebagai sumber ajaran, al Qur’an sebagaimana telah dibuktikan oleh para peneliti ternyata menaruh perhatian yang besar terhadap masalah pendidikan dan pengajaran.
Demikian pula dengan al Hadist, sebagai sumber ajaran Islam, di akui memberikan perhatian yang amat besar terhadap masalah pendidikan. Nabi Muhammad SAW, telah mencanangkan program pendidikan seumur hidup ( long life education ). Dari uraian diatas, terlihat bahwa Islam sebagai agama yang ajaran – ajarannya bersumber pada al - Qur’an dan al Hadist sejak awal telah menancapkan revolusi di bidang pendidikan dan pengajaran. Langkah yang ditempuh al Qur’an ini ternyata amat strategis dalam upaya mengangkat martabat kehidupan manusia. Kini di akui dengan jelas bahwa pendidikan merupakan jembatan yang menyeberangkan orang dari keterbelakangan menuju kemajuan, dan dari kehinaan menuju kemuliaan, serta dari ketertindasan menjadi merdeka, dan seterusnya.
Dasar Pelaksanaan Pendidikan Islam
Dasar Pelaksanaan Pendidikan Islam terutama adalah Al Qur’an dan al Hadist Firman Allah :
“ Dan demikian kami wahyukan kepadamu wahyu (al Qur’an) dengan perintah kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan al Qur’an itu cahaya yang kami kehendaki diantara hamba-hamba kami. Dan sesungguhnya kamu benar – benar memberi petunjuk kepada jalan yang benar (QS.Asy-Syura: 52)”
Dan Hadis dari Nabi SAW :
“ Sesungguhnya orang mu’min yang paling dicintai oleh Allah ialah orang yang senantiasa tegak taat kepada - Nya dan memberikan nasihat kepada hamba - Nya, sempurna akal pikirannya, serta mengamalkan ajaran - Nya selama hayatnya, maka beruntung dan memperoleh kemenangan ia” (al Ghazali, Ihya Ulumuddin hal. 90)”
Dari ayat dan hadis di atas tadi dapat diambil kesimpulan : Bahwa al Qur’an diturunkan kepada umat manusia untuk memberi petunjuk kearah jalan hidup yang lurus dalam arti memberi bimbingan dan petunjuk kearah jalan yang diridloi Allah SWT.
Menurut Hadist Nabi, bahwa diantara sifat orang mukmin ialah saling menasihati untuk mengamalkan ajaran Allah, yang dapat diformulasikan sebagai usaha atau dalam bentuk pendidikan Islam.
Al Qur’an dan Hadist tersebut menerangkan bahwa nabi adalah benar-benar pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus, sehingga beliau memerintahkan kepada umatnya agar saling memberi petunjuk, memberikan bimbingan, penyuluhan, dan pendidikan Islam.
Bagi umat Islam maka dasar agama Islam merupakan fondasi utama keharusan berlangsungnya pendidikan. Karena ajaran Islam bersifat universal yang kandungannya sudah tercakup seluruh aspek kehidupan ini. Pendidikan dalam arti umum mencakup segala usaha dan perbuatan dari generasi tua untuk mengalihkan pengalamannya, pengetahuannya, kecakapannya, serta keterampilannya kepada generasi muda untuk memungkinkannya melakukan fungsi hidupnya dalam pergaulan bersama, dengan sebaik-baiknya.
Corak pendidikan itu erat hubungannya dengan corak penghidupan, karenanya jika corak penghidupan itu berubah, berubah pulalah corak pendidikannya, agar si anak siap untuk memasuki lapangan penghidupan itu. Pendidikan itu memang suatu usaha yang sangat sulit dan rumit, dan memakan waktu yang cukup banyak dan lama, terutama sekali dimasa modern dewasa ini. Pendidikan menghendaki berbagai macam teori dan pemikiran dari para ahli pendidik dan juga ahli dari filsafat, guna melancarkan jalan dan memudahkan cara – cara bagi para guru dan pendidik dalam menyampaikan ilmu pengetahuan dan pengajaran kepada para peserta didik.
Kalau teori pendidikan hanyalah semata – mata teknologi, dia harus meneliti asumsi – asumsi utama tentang sifat manusia dan masyarakat yang menjadi landasan praktek pendidikan yang melaksanakan studi seperti itu sampai batas tersebut bersifat dan mengandung unsur filsafat. Memang ada resiko yang mungkin timbul dari setiap dua tendensi itu, teknologi mungkin terjerumus, tanpa dipikirkan buat memperoleh beberapa hasil konkrit yang telah dipertimbangkan sebelumnya didalam sistem pendidikan, hanya untuk membuktikan bahwa mereka dapat menyempurnakan suatu hasil dengan sukses, yang ada pada hakikatnya belum dipertimbangkan dengan hati – hati sebelumnya. Sedangkan para ahli filsafat pendidikan, sebaiknya mungkin tersesat dalam abstraksi yang tinggi yang penuh dengan debat tiada berkeputusan,akan tetapi tanpa adanya gagasan jelas buat menyelesaikan pekerjaan – pekerjaan yang ideal.
Tidak ada satupun dari permasalahan kita mendesak dapat dipecahkan dengan cepat atau dengan mengulang – ulang dengan gigih kata – kata yang hampa. Tidak dapat dihindari, bahwa orang – orang yang memperdapatkan masalah ini, apabila mereka terus berpikir,yang lebih baik daripada mengadakan reaksi, mereka tentu akan menyadari bahwa mereka itu telah membicarakan masalah yang sangat mendasar. Sebagai ajaran (doktrin) Islam mengandung sistem nilai diatas mana proses pendidikan Islam berlangsung dan dikembangkan secara konsisten menuju tujuannya. Sejalan dengan pemikiran ilmiah dan filosofis dari pemikir – pemikir sesepuh muslim, maka sistem nilai – nilai itu kemudian dijadikan dasar bangunan (struktur) pendidikan islam yang memiliki daya lentur normatif menurut kebutuhan dan kemajuan.
Pendidikan Islam mengidentifikasi sasarannya yang digali dari sumber ajarannya yaitu Al Quran dan Hadist, meliputi empat pengembangan fungsi manusia :
1)      Menyadarkan secara individual pada posisi dan fungsinya ditengah-tengah makhluk lain serta tanggung jawab dalam kehidupannya.
2)      Menyadarkan fungsi manusia dalam hubungannya dengan masyarakat, serta tanggung jawabnya terhadap ketertiban masyarakatnya.
3)      Menyadarkan manusia terhadap pencipta alam dan mendorongnya untuk beribadah kepada Nya
4)      Menyadarkan manusia tentang kedudukannya terhadap makhluk lain dan membawanya agar memahami hikmah tuhan menciptakan makhluk lain, serta memberikan kemungkinan kepada manusia untuk mengambil manfaatnya.
Setelah mengikuti uraian diatas kiranya dapat diketahui bahwa Filsafat Pendidikan Islam itu merupakan suatu kajian secara filosofis mengenai masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan yang didasarkan pada al Qur’an dan al Hadist sebagai sumber primer, dan pendapat para ahli, khususnya para filosof Muslim, sebagai sumber sekunder. Dengan demikian, filsafat pendidikan Islam secara singkat dapat dikatakan adalah filsafat pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam atau filsafat pendidikan yang dijiwai oleh ajaran Islam, jadi ia bukan filsafat yang bercorak liberal, bebas, tanpa batas etika sebagaimana dijumpai dalam pemikiran filsafat pada umumnya.


 
;